Jakarta – Burung-burung pipit berjatuhan di kuburan Banjar Sema, Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali. Apa yang menyebabkan fenomena ini terjadi?

Mulanya, fenomena ini terekam dalam sebuah video yang viral. Video itu menampilkan burung-burung pipit berjatuhan di tanah dalam keadaan basah di kuburan Banjar Sema, Kabupaten Gianyar, Bali.

Peneliti dari Pusat Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Mohammad Irham mengaku belum bisa memastikan penyebab pasti fenomena ini. Dia belum tahu apakah bangkai burung tersebut sudah diteliti.

“Saya sudah baca berita ini, tapi saya tidak bisa menjelaskan fenomena ini. Saya tidak tahu apakah ada pemeriksaan nekropsi (bedah bangkai untuk menyelidiki penyakit) atas burung tersebut oleh pihak yang kompeten di Bali,” kata Irham.

Irham menjelaskan nekropsi ini penting dilakukan untuk mengetahui sebab kematian burung ini.

“Pemeriksaan ini penting untuk mengetahui penyebab kematian,” lanjutnya.

Kesaksian Warga

Sebelumnya, video itu direkam oleh Kadek Sutika sekitar pukul 08.00 Wita. Setelah merekam video tersebut, dia langsung mengunggahnya ke Facebook, seketika viral beberapa menit kemudian.

“Iya, awalnya saya rekam dulu itu, habis itu langsung unggah di FB. Kira-kira jam 8 lebih sedikit (sudah viral). Nggak sampai 08.30, kira-kira jam 08.15 rasanya sudah viral,” kata Sutika saat dihubungi detikcom, Kamis (9/9/2021) malam.

Sutika menceritakan menemukan burung-burung berjatuhan itu saat pulang dari tempat tinggal temannya.

“Awalnya pagi itu saya mau baru berangkat kerja dan sedang hujan. (Karena hujan) saya cari dulu teman saya yang tak ajak kerja. Tapi teman saya mengatakan, nggak jadi kerja karena hujan,” jelasnya.

Setelah memutuskan tidak bekerja bersama temannya, Sutika hendak langsung pulang ke rumahnya. Namun, saat pulang, dia melihat anak-anak sedang mengambil burung-burung di kuburan.

“(Saat pulang) saya lihat ke kuburan saya lihat anak-anak yang mengambil-ambil burung itu. Saya lihat ke kuburan, saya lihat ada banyak burung di bawah pohon, ada yang mati, ada yang masih hidup,” kisahnya.

Menurut Sutika, burung-burung yang berjatuhan ke tanah itu berada di bawah pohon asem di kuburan Banjar Sema. Awalnya burung-burung tersebut tidur di atas pohon.

“Awalnya sering tidur burung di pohon asem itu. Banyak ada burung di sana, tapi baru lima hari burung di sana, dulu tidak ada. Dua ada pohon asem di sana. Asem kembar rasanya itu,” tuturnya.

Tanggapan BKSDA Bali

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali mengaku belum mendapat laporan terkait peristiwa tersebut. Diduga fenomena tersebut dipengaruhi hujan asam.

“Kalau kita bicara kondisi dan kejadian alam, bisa dikatakan, bisa saja mungkin waktu hujan itu mengandung asam yang cukup tinggi,” kata Kepala Subbagian Tata Usaha BKSDA Bali Prawona Meruanto saat dimintai konfirmasi, Kamis (9/9/2021).

“Sehingga mengakibatkan burung-burung berjatuhan bisa saja seperti itu. Atau mungkin dengan sebab-sebab lain yang kita tidak ketahui sebelumnya,” tambahnya.

 

 

Source : https://news.detik.com/berita/d-5717865/burung-pipit-berjatuhan-di-bali-perlu-lakukan-ini-untuk-tahu-penyebabnya?_ga=2.39785059.1914608700.1631240477-835837327.1624609218